Thursday, July 23, 2009

Let the time

Yesterday I finally finished watching Benjamin Button dvd, yeah you can say "kemana aja lo?? so last year abeeees" don't worry I always have an answer for that

1 dialog I love much from that movie and would to share to you
"you can mad as mad dog, you can curse (blablabla sorry I dont really remember) but when the time has come, you just have to let it go..."

Yeah when time has come you just have to let everything go then it will release you from feeling guilty, sad even from deep lost.

JUST LET IT GO

Still learn for being such mature girl. Be tough when lost, strong in sadness, think clearly in madness.

I want you even in my darkest dream. I need you like air to breath. Hate your stubborn head (as well as mine) like having ice cream in freezing day. Smiling and blushing only when I hear your voice.
Its not easy to let go our fight, forget our long conversation debating nothing.

I'm not let anything gone, cos time still here and also the dream, our dream.

When hoping much brings to crying and wanting only can make dying, just believe there's faith to show you to the light

Thursday, June 25, 2009

bocah tua pun masih ingusan

Sms ditengah malam saya kirimkan ke beberapa teman yang saya pikir bisa memberi petunjuk dari kegelisahan akan beragam pertanyaan.

Have you ever afraid of future, being mature and getting old?
Losing people around you loved. Decide then failed. In love then broke up.
Tired to hopping and praying, have you??


Send

Sempat terpikir untuk berhenti menjalani proses menjadi dewasa, melepas tanggungan atas semua beban dan kesalahan ditangan dan terus melanjutkan hidup. Ketika semua keputusan yang diambil justru tidak membawa hasil yang baik, kehilangan satu per satu orang yang dimatanya terdapat kedamaian, sampai akhirnya merasa terlalu lelah untuk sekedar bermimpi. Bukan, saya tidak tengah mempertanyakan tentang keyakinan akan keberadaan Tuhan, tapi saya sedang mencari pembenaran atas sikap manja-tidak dewasa-pesimis dalam diri ini. Tak satu pun dapat menjawab pertanyaan gila itu dan..

Viola! Saya mendapati hati ini menjawab malu-malu saat melihat sosok bos saya yang setengah baya dengan rambut putih yang mulai rontok.
Bukankah semua orang mengalami proses ini? Namanya hukum alam, semua orang harus gagal, kalah, salah, patah hati, kehilangan orang-orang penting dalam hidup mereka untuk menjadi lebih dewasa dan akhirnya tua, lalu memberikan petuah kepada yang lebih muda, agar bisa lebih kuat ketika menghadapi keadaan yang nyaris sama atau sukur2 tidak mengalami kegagalan yang sama.

Lalu pertanyaan lain pun muncul (nanya mulu yah kaya turis ;p)
Apa saya sebegitu lugu dan naïf berharap dapat menghindari semua proses itu dengan tidak merasakan sedikitpun kesulitan dalam hidup?
Lantas melepaskan tanggung jawab atas diri saya sendiri?

Ternyata saya memang butuh banyak belajar, rasanya masih pantas jika saya menyebut diri saya bocah tua ingusan…



bahkan berlian pun harus dipoles agar terlihat keindahannya
ijinkan aku untuk terus dekat denganMu, agar selalu mengambil hikmah dari tiap cobaan itu

Monday, May 25, 2009

koma

Entahlah bagaimana memulai menulis lagi, pikiran saya sudah lama beku begitupun jari jemari yang terasa kaku. Bisa jadi posting kali ini hanya berisi tentang kebingungan saya mencari jejak untuk kembali pulang, rumah bagi jiwa, rindu sekali untuk kembali kesana.
Ya, rasanya sudah terlalu lama saya tidak menggunakan nalar dan akal sehat dalam hidup. Saya linglung, layaknya orang yang baru tersadar dari sebuah tidur panjang. Koma, mati suri, memiliki jiwa namun mati, berhati namun enggan berempati. Melangkah tanpa tujuan, layaknya jasad hidup yang tak lagi pantas untuk hidup namun masih keras kepala ketika sang malaikat maut datang menjemput.
Sulit sekali untuk terbangun, mengerjap lantas membuka mata lebar melihat sekeliling dan memutuskan melanjutkan semuanya, walau dari nol. Memaafkan, melupakan lalu ikhlas berserah akan berbagai kegagalan. Kadang saya berfikir alangkah lebih mudah memaafkan sekaligus melupakan kesalahan orang lain dibanding kesalahan diri sendiri. Saya belum sepenuhnya pulih dan mulai belajar berlari seperti dulu, masih tertatih bahkan untuk sekedar duduk tegap diatas tempat tidur. Rapuh sekali, tak pernah terpikir saya akan serapuh ini.
Kata orang, saya ini karang, tambeng, smiling and laughter girl, manusia yang tak mungkin menangis. Layaknya burung yang senang bebas kemana saja, tanpa arah, menerabas batasan birunya langit dan hijaunya lautan demi sebuah kepuasan. Tapi lihatlah, perempuan kecil ini kini berjuang keras untuk sekedar kembali hidup, dan mungkin nantinya, kembali terjatuh.
Namun ketika saya memutuskan untuk bangun, seketika itu pula saya ingin bahagia. Saya bahagia untuk setiap tarikan nafas yang masih dipercayakan Tuhan, untuk setiap titik kebosanan menunggu datangnya keajaiban dalam sebuah diam, tapi benarkah masih ada keajaiban? Ah saya tak lagi mau peduli.. bukankah sudah sangat ajaib saya masih bisa bahagia setelah terlunta-lunta dalam hampa?
Bukti nyata bahwa Tuhan itu memang ada, lengkap dengan segala keesaanNya…


Satu cerita tentang manusia coba tuk memahami arti cinta.. Benarkah cinta diatas segalanya.. Hanyakah itu satu-satunya yang menjadi alasan untuk menutup mata tak melihat dunia yang sesungguhnya.. Dan menjadi jawaban atas semua tanya yang kita harap mampu mewujudkan sebuah akhir bahagia.. Buka mata, hati, telinga.. Sesungguhnya masih ada yang lebih penting dari sekedar kata cinta.. Yang kau inginkan tak selalu yang kau butuhkan.. Mungkin memang yang paling penting cobalah untuk membuka mata, hati, telinga.. Adakah kau rasakan kadang hati dan pikiran tak selalu sejalan seperti yang kau harapkan.. Tuhan tolong tunjukkan apa yang kan datang, hikmah dari semua misteri yang tak pernah terpecahkan.. (mata, hati, telinga – maliq n d’essentials)

PS. Tuhan aku titip dia padaMu, karena ku tau Engkaulah sebaik-baik penjagaan dan karena ku tau tak mungkin untuk terus bermimpi bertemu dengannya dan dianggap senyata angin baginya

Wednesday, April 15, 2009

jangan takut

To the blacks browns reds and yellows periwinkles teals and fuchsias, if you want to be in advertising, there is one thing to remember.
Don’t be afraid.
of hard work, rejection, racism, responsibility, sexism.
don’t be afraid of being the only one in the room.
don’t be afraid to ask question, find answers. listen. hear. trust.
don’t be afraid to follow. dont be afraid to lead.
don’t be afraid to learn. to grow. to mature. to change.
don’t be afraid to try. to fail. to try again. fail again. tray again and fail again. dont be afraid to ask for help.
don’t be afraid to be smart. clever. witty. funky. hard. street. elegant. beautiful. you.
don’t be afraid to be fired.
don’t be afraid when you hear the word nigger.
don’t be afraid to remind them that right after the black jokes come the jewish jokes the polish jokes and the fat jokes.
don’t be afraid to master the craft. to master the game.
don’t be afraid when they don’t understand your accent, dialect, or slang. your heroes, your sex symbols. your style. your music. your people. your culture. your you.
don’t be afraid to take criticism.
don’t be afraid to be wrong. to be right.
don’t be afraid to speak your mind. stand up for what you believe and pay the consequences.
don’t be afraid to be a team player. don’t be afraid to be the peon. the rookie. the junior. the helper. the pair of hands. the intern. the student.
don’t be afraid to not be the victim. don’t be afraid to not take it personally.don’t be afraid to call a spade a spade.
don’t be afraid to have a personality. an opinion. a point of view. a perspective. an objective. a positive attitude.
don’t be afraid of those who are threatened by your presence. or feel you don’t belong. or those who need you to fail for them to succeed.
don’t be afraid to understand the difference between racism and insecurity. between racism and power. between racism and chauvinism.
don’t be afraid to forgive. to apologize. to be humble.
don’t be afraid to surrender. to win. to lose. to fight.
don’t be afraid of titles, awards. salaries. egos. offices. windows. ponytails. clothes. jewelry. degrees. backgrounds. lifestyles. cars. bench houses.
don’t be afraid to compete.
don’t be afraid of not being popular.
don’t be afraid to work weekends. holidays. birthdays. sick days. personal days.
don’t be afraid to work twice as hard. twice as long. twice as good.
don’t be afraid to get more out of this business than this business ever intended on giving.


Charles Hall
African american copywriter & film director
p.s. and under no circumstances whatsoever are you to be intimidated. because some will try.



Sukaaaaa banget sama tulisan ini, ceritanya tadi lagi iseng-iseng main ke blog salah satu temen 'maya' eh terus seperti biasa saya melongo sekaligus ternganga dengan tulisan dia yang menggambarkan kecintaan dia sama dunianya (udah hampir 3 tahun loh saya kenal dia tapi isi tulisanya tetep sama, iklan).
Ngebaca tulisan ini saya jadi ingat kata2 seseorang teman sebelum saya memutuskan untuk resign, saya saat itu masih tarik-ulur karena takut salah mengambil keputusan, dia bilang gini "ya udah resign aja, secara suasananya juga udah gak nyaman, sekarang atau nanti kan sama aja, takut salah pindah ke tempat yang ternyata jauh lebih buruk? ya udah kalo salah, tinggal resign lagi kan masih muda..hidup tuh jangan takut salah neng!"
Minggu ini saya kembali bimbang, bukan untuk sebuah keputusan besar memang, tapi tetap harus dipertimbangkan dengan masak. Bisa dibilang, bulan ini adalah bulan yang cukup bikin pusing. Saya masih belum mengambil keputusan apa-apa, masih sibuk berdoa memohon petunjuk yang terbaik, amin.
Tapi tulisan diatas cukup bikin saya terpacu untuk maju :)


Take the chance and make life more colorful

Wednesday, April 8, 2009

Kita sedang pesta bung!!

Beberapa minggu kemarin saya ikut merasakan (well.. sebenarnya hanya menonton dari jauh) riuhnya pawai kampanye parpol2 besar dibeberapa jalan utama Jakarta yang bagi sebagian orang dituding sebagai penyebab tambahan kemacetan.
Pawai itu membawa saya flashback ke jaman dimana orba masih mendominasi, hanya ada 3 parpol yang berkuasa. Ya, saya ingat betapa riuh dan ramainya sepeda motor dengan klakson yang dipencet berkali-kali, berkeliling jalan-jalan sekitar perumahan tempat tinggal. Sebagai anak kecil yang diajak berkeliling pawai, sudah tentu saya senang sekali. Jauh setelah itu, saya tahu kalau semua peserta pawai diberi imbalan untuk meramaikan acara tersebut. Naif memang jika mengharapkan masyarakat mau meluangkan waktu untuk pawai berkeliling kota hanya demi mendukung parpol kesayangan, padahal untuk cari makan sudah susah.
Dan kejadian ini berulang, bulan lalu pawai jadi lebih semarak karena ada iming2 uang ‘cape’ dari parpol yang bersangkutan. Kesedihan pun bertambah ketika melihat banyak peserta yang terlihat tidak tau bahkan ‘ngeh’ dengan apa yang diteriakkan para petinggi ‘yang katanya akan jadi wakil suara kami masyarakat bawah’. Jurkam (baca: juru kampanye) boleh saja berapi-api meneriakkan visi misi, tapi coba lihat bagaimana para peserta menanggapi orasi tersebut, apa ada wajah antusias? Atau paling tidak orang yang mengangguk setuju? sayangnya tidak. Ketika melihat berita, saya secara jujur kaget akan besarnya kertas suara yang berisi ratusan caleg dan bertanya-tanya bagaimana bisa saya memilih salah satu diantara mereka? Lah wong tau tujuan mereka juga nggak (walaupun tujuan itu mungkin hanya akal2an dan rekayasa belaka). Saya tidak menyerah dan diam begitu saja, sejak itu saya konsisten untuk mencari tau siapa mereka (para caleg). Hampir setiap siaran tentang pemilu saya coba ikuti, namun sampai sekarang masih belum menemukan sosok yang saya anggap tepat untuk mewakili memperjuangkan hak saya sebagai seorang perempuan muslim yang bekerja dan dalam waktu periode keterwakilan suara saya (5 tahun sebelum pemilu selanjutnya) saya, mudah2an sudah menjadi seorang ibu. Saya sudah 60% yakin untuk tidak memilih, bukan sok idealis tapi kok ya saya gak mau kontribusi yang memang seujung jari ini menjadi mubazir.
Semalam sepulang kerja, ibu saya bilang kalau saya dapat surat panggilan (wah kaya abis ngelamar kerja) untuk nyontreng. Dia bilang kami sekeluarga termasuk beruntung karena gak semua orang mendapat surat tersebut karena satu dan lain hal (loh kok bisa?). Saya masih kekeuh untuk kabur dan memilih berenang sambil menghitamkan kulit (juga berharap beban dikepala bisa ikut hanyut terbasuh air, hehe) tapi pikiran saya tergelitik karena bapak saya bilang gini “yah dikasih kesempatan kok disia2in, kan yang menyia-nyiakan kesempatan adalah orang merugi”.
mmm...masih sisa beberapa jam lagi sebelum penentuan untuk memilih atau tidak, so think wisely guys!


its about our future..pick a right one, or not at all!!